SNV Gandeng IPB Tingkatkan Produksi Susu Segar di Indonesia

SWA.CO.ID. Produksi susu di Indonesia tahun ini cenderung mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) produksi susu rata-rata baru mencapai 1,3 juta-1,5 juta liter/hari atau mengalami penurunan sekitar 10%-30% dibanding produksi susu segar tahun lalu mencapai sekitar 1,5 juta-1,7 juta liter/hari.

Secara nasional, Jawa Timur memberikan kontribusi terbesar dalam produksi susu segar yaitu sekitar 52% dengan produksi rata-rata 980 ton/hari (358 ribu ton/tahun). Hasil produksi susu dari Jawa Timur digunakan untuk memenuhi kebutuhan Industri Pengolahan Susu (IPS) sebesar 900 ton/hari (328 ribu ton/tahun) atau sekitar 92 %. Sisanya (8%) atau sekitar 80 ton/hari (29 ribu ton/tahun) dikonsumsi langsung ke masyarakat serta dikirimkan ke luar Jatim seperti daerah DKI Jakarta, Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sebenarnya, permintaan susu di Jawa Timur saat ini sekitar 1.600 ton/hari (584 ribu ton/tahun) dengan pasokan sekitar 980 ton/hari, berarti masih terdapat kekurangan sekitar 620 ton/hari (226 ribu ton/tahun). Menurut Idat Galih Permana, Dosen Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, produksi susu segar sapi di Indonesia rata-rata hanya 12-13 liter/ekor/hari. Berbeda dengan sapi di Australia (misalnya) produksinya susu segarnya sekitar 25/liter/hari/sapi. “Paling hanya 20% kebutuhan susu segar yang dipasok peternak sapi di Indonesia, selebihnya 80% merupakan susu impor,” katanya.

Untuk meningkatkan produksi susu segar sapi di Indonesia SNV, organisasi pembangunan non-profit di Belanda menggandeng Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB menggelar seminar National Dairy Workshop yang membahas peningkatan produktifitas susu sapi nasional melalui pakan ternak, di Auditorium Arion Swiss Bell Hotel, Kemang, Jakarta Selatan (13/11).

SNV dan IPB telah membuat proyek percontohan terhadap peternak sapi di Jawa Barat (KPSNU Lembang dan KPBS Pengalengan, Bandung) dan Jawa Timur (KOPSAE Pujon, Malang dan KPSP Setia Kawan, Pasuruan) yang merupakan daerah penghasil susu terbesar di Indonesia. Menurut Phil Harman, Country Director SNV Indonesia, melalui program ini bukan saja meningkatkan pendapatan peternak, tetapi juga meningkatkan gizi dan ketahanan pangan. Apalagi pemerintah berupaya meningkatkan swasembada susu dari 25% menjadi 50%. Proyek ini bertujuan untuk menguji potensi intervensi untuk meningkat pemberian pakan ternak, pasokan air dan kesehatan hewan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas susu yang berdampak terhadap peningkatan pendapatan peternak.

“SNV memiliki pengalaman di seluruh dunia dan melalui pendekatan Inklusif Bisnis, kami mendukung inisiatif perusahaan dalam melatih peternak untuk meningkatkan kualitas dan produksi susu. Kami juga bekerja sama dengan peternak akan meningkatkan akses terhadap pasar bagi produsen susu”, ungkap kata Phil. Kini, setelah berkiprah sekitar 50 tahun, SNV telah bekerjasama dengan 38 negara berkembang seperti di Asia, Afrika dan Amerika katin.

Menurut Sutresniwati, Advisor Peternakan SNV Indonesia, hasil uji coba ini sangat menjanjikan khususnya untuk peningkatan pakan ternak, pengenalan akan mesin pemotong dan mesin pemerah susu, serta pasokan air,  semua menunjukkan hasil yang sangat baik. “Peningkatan pakan ternak dengan teknik silase tidak hanya meningkatkan produksi susu sekitar 1 liter untuk satu sapi, tetapi juga meningkatkan kualitas susu terutama pada kadar lemak tertentu” tuturnya.

Hal ini diakui Dede, peternak dari Pangalengan, Jawa Barat, yang merasakan dampak positif dari proyek percontohan ini. “Melalui teknik silase ini produktivitas susu meningkat dan jugamenghemat waktu karena tidak perlu terlalu lama untuk mengumpulkan rumput “, kata Dede. (EVA)

Source: www.swa.co.id


Leave a Reply